Wednesday, December 27, 2017

Hadis Shahih

STORYESS 


  KUMPULAN HADITS HADITS SHAHIH

    Bacalah Hadits yang belum kamu ketahui, belum pernah kamu dengar,
    ingatlah, amalkanlah dan sampaikanlah kepada yang lain



Berikut ini matan lengkap hadits

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ
الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ
إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa
memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan
Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang
semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana
bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”

Penjelasan Hadits

قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ

Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman

Dalam hadits ini dipakai istilah حَلاَوَةُ الإِيمَانِ (manisnya iman). Dalam
ilmu balaghah, istilah seperti ini disebut isti’arah takhyiliyyah, yaitu
majaz (kiasan) yang dibangun dari tasybih (penyerupaan) imajinasi.
Semacam majas metafora dalam bahasa Indonesia. Bahwa iman itu terasa manis.

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini mengindikasikan
bahwa tidak semua orang bisa merasakannya. Sebagaimana manisnya madu
hanya akan dirasakan oleh orang yang sehat, sedangkan orang yang sakit
kuning tidak mampu merasakan manisnya. Demikian pula manisnya iman. Ia
hanya didapatkan oleh orang-orang yang imannya “sehat”. Diantaranya
adalah yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam penggalan hadits
berikutnya.

Manisnya iman (حَلاَوَةُ الإِيمَانِ) juga mengingatkan kita ibarat pohon, iman
itu memiliki buah manisnya bisa dirasakan oleh seorang mukmin. Tentu
saja pohon baru bisa berbuah ketika akarnya teguh dan pohonnya kuat.
Jadi ia tidak mudah dirasakan oleh setiap orang.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي
السَّمَاءِ  تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manisnya iman
(حَلاَوَةُ الإِيمَانِ) merasakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan
menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah, lebih mengutamakan
ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan merasakan lezatnya kecintaan
kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya

Inilah hal pertama yang membuahkan manisnya iman: mencintai Allah dan
Rasul-Nya melebihi selainnya. Seorang mukmin haruslah menyempurnakan
cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, baru ia mendapati manisnya iman.
Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi
harus melebihi dari yang selainnya.

Manusia akan merasakan kebahagiaan besar ketika sedang mencintai. Maka
manisnya iman menjadi buah yang dirasakan seorang mukmin ketika ia
mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Inilah yang menjelaskan
mengapa Bilal sanggup menahan panasnya pasir dan terik surya, beratnya
batu yang menindihnya, serta hinaan menyakitkan Umayyah dan
kawan-kawannya. Dalam kondisi demikian, Bilal tetap melantunkan manisnya
iman melalui lisannya: “ahad, ahad…”

Manisnya iman buah cinta ini pula yang membuat Khabab bin Al Art seakan
tak merasakan luka-luka menganga di tubuhnya yang disalib. Maka ketika
diminta pendapatnya bagaimana jika Rasulullah yang menggantikannya, ia
menjawab dalam nada manisnya iman: “Bahkan aku tak rela jika kaki
Rasulullah tertusuk duri”

Dalam manisnya iman pula, sahabat-sahabat Ansar rela pulang tangan
kosong tanpa ghanimah dalam Perang Hunain. Isak tangis mengharu biru
ketika mereka tersadar bahwa Rasulullah hendak meneguhkan Islam para
muallaf Makkah. Sementara mereka pulang membawa Rasulullah, biarlah
orang lain pulang membawa unta dan kambing.

وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ

Dan mencintai seseorang semata-mata karena Allah

Jika kecintaan kepada Allah adalah yang pertama dan tidak boleh
terkalahkan oleh selainnya, demikian pula Rasulullah sebagai manusia
yang paling dicintai, bukan berarti kita tidak diperkenankan mencintai
sesama. Cinta itu fitrah manusia. Maka mencintai kedua orang tua, anak,
saudara, sahabat, dan sesama mukmin juga dibutuhkan. Dan tatkala cinta
itu karena Allah semata, maka iman akan manisnya iman akan bisa dirasakan.

Generasi pertama umat ini adalah generasi yang sukses dalam membina
cinta karena Allah ini. Maka dengan cinta lillah, suku Aus dan Khazraj
yang semula bermusuhan menjadi bersaudara di bawah satu bendera: Ansar.
Pada saat itu, mereka merasakan manisnya iman. Lalu, muhajirin dan
anshar yang belum pernah bersua pun, tiba-tiba menjadi saling berbagi.
Membagi harta menjadi dua, membagi kebun dan rumah agar bisa sama-sama
hidup layak dalam perjuangan bersama. Pada saat itu, mereka merasakan
manisnya iman.

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika
dilempar ke dalam api neraka

Jika dua hal yang pertama adalah pekerjaan mencintai, hal ketiga yang
membawa manisnya iman ini adalah pekerjaan sebaliknya: membenci. Yakni
membenci kekufuran. Khususnya kekufuran yang telah ditinggalkannya dan
diganti dengan Islam.

Dalam riwayat Muslim, redaksi hadits tentang manisnya iman (حَلاَوَةُ
الإِيمَانِ) ini pada poin ketiga berbunyi :

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dan benci kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah,
sebagaimana kebenciannya dilempar ke dalam api neraka

Dan itulah yang, lagi-lagi, kita dapati pada generasi sahabat Nabi. Maka
ketika Sayyid Quthb memotret tiga karakter sahabat yang menjadi faktor
utama keberhasilan mereka, salah satunya ia catat: “Saat mereka masuk
Islam dan mendapat Al-Qur’an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan”

Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan juga mengingatkan para sahabat
agar jangan sampai kembali kepada kejahiliyahan, meskipun hanya sebagian
sifatnya. Maka Rasulullah mengingatkan kaum Anshar ketika hampir saja
mereka bermusuhan kembali antara suku Aus dan Khazraj seperti perang
bu’ats. Rasulullah juga pernah mengingatkan Abu Dzar tatkala berselisih
dengan Bilal lalu mencelanya dengan nada sentimen kesukuan. “Sungguh
dalam dirimu ada perilaku jahiliyah” tegur Rasulullah yang selalu
dikenang Abu Dzar. Dan sejak saat itu ia lebih mencintai dan menghormati
Bilal.

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas
adalah sebagai berikut:
1. Bolehnya memakai majaz dalam menasehati, memberi pelajaran, dan
dakwah dengan tujuan agar lebih mudah dipahami dan diterima pelajarannya;
2. Iman memiliki buah yang manis yang bisa dirasakan mukmin ketika
memenuhi kriteria atau syarat-syaratnya, sebaliknya tidak semua orang
bisa merasakan manisnya iman ini;
3. Manisnya iman bisa dirasakan seorang mukmin yang mencintai Allah dan
Rasul-Nya melebihi selainnya, mencintai orang lain karena Allah semata,
dan membenci kembali kepada kekufuran.

Wallahu a’lam bish shawab

Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي
قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ
أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

(BUKHARI – 15) :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah
menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah
menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang
apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:
Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya.
Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena
Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila
dilempar ke neraka”

Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ
وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

(BUKHARI – 14) :

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim berkata, telah
menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dari
Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan telah menceritakan pula
kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari
Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya
daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya”

Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى
أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

(BUKHARI – 13) :

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan
kepada kami Syu’aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad
dari Al A’raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah
beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang
tuanya dan anaknya”
Shahih Bukhari
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

(BUKHARI – 12) :

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan
kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu’alim berkata, telah
menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian
sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk
dirinya sendiri”.

Shahih Bukhari
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ
وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

(BUKHARI – 11) :

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah
menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari
Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada
orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”.

Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقُرَشِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

(BUKHARI – 10) :

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al Qurasyi dia
berkata, Telah menceritakan kepada kami bapakku berkata, bahwa Telah
menceritakan kepada kami Abu Burdah bin Abdullah bin Abu Burdah dari Abu
Burdah dari Abu Musa berkata:

‘Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama?” Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Siapa yang Kaum Muslimin selamat
dari lisan dan tangannya”

  Kumpulan Hadist Tentang Sholat

Kewajiban utama
seorang muslim adalah mendirikan sholat. Allah SWT memerintahkan hamba
hambanya untuk mengerjakan sholat wajib sebanyak 5 kali sehari mulai
dari sholat subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isyak. hukum mengerjakan
sholat bagi seorang muslim adalah wajib dan haram serta berdosa
seseorang yang meninggalkannya.

Sholat sendiri merupakan tiang agama islam dan merupakan salah satu
ibadah paling utama. bahkan perkara yang pertama kali dipertanyakan di
akhirat nanti adalah tentang bagaimana sholat kita semasa di dunia. jika
sholat kita bagus, maka amalan lainnya ikut menjadi bagus. begitu pula
sebaliknya, jika sholat kita jelek, maka jeleklah semua amal perbuatan
kita lainnya. maka dari itu kita diwajibkan menjaga dan memelihara
shalat kita semasa hidup agar kita selamat dunia akhirat. shalat juga
termasuk dalam rukun islam

ke dua. Allah SWT telah banyak sekali menerangkan tentang masalah sholat
dalam Al-Quran, begitu pula Rasulullah SAW telah banyak menjelaskan
perkara shalat ini dalam hadist hadist beliau.

Untuk itu kali ini muslim fiqih menyajikan kumpulan hadits hadits Nabi
Muhammad SAW tentang sholat dalam tekstulisan arab dan latin lengkap
beserta artiterjemahannya dalam bahasa indonesia...

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ اَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ يَوْمَاْلقِيَامَةِ الصَّلاَةُ اْلمَكْتُوْبَةُ فَاِنْ اَتَمَّهَا وَ اِلاَّ قِيْلَ. اُنْظُرُوْا، هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَاِنْ
كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ اُكْمِلَتِ اْلفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ اْلاَعْمَالِ اْلمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ
ذلِكَ. الخمسة، فى نيل الاوطار 1: 345
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari
qiyamat, adalah shalat wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya
(maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna shalatnya,
dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah
mengerjakan shalat sunnah ! Jika ia mengerjakan shalat sunnah, maka
kekurangan dalam shalat wajib disempurnakan dengan shalat sunnahnya”.
Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. [HR.
Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 345]


مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan
ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)


Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah
meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْيَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh
karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari
jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari
jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan
menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim
no. 163)
Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata,”Aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Rasulullah SAW bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat.
Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi,
An Nasa’i, Ibnu Majah. )

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَالَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang
munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui
keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan
merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam-, beliau mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah
shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.”
(HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih.)

Rasul SAW bersabda,

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. مُرُوْا صِبْيَانَكُمبِالصَّلاَةِ لِسَبْعِ سِنِيْنَ وَ اضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرِ سِنِيْنَ وَ فَرّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى اْلمَضَاجِعِ.
احمد و ابو داود، فى نيل الاوطار 1: 348
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari datuknya, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anak kecilmu melakukan shalat
pada (usia) tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada
(usia) sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka pada tempat-tempat tidur”.
[HR. Ahmad dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 348]

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلاَةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّداً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja, maka janji
Allah terlepas darinya. ” (HR. Ahmad no.22128.)

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ اَنَسِ بْنَ مَالِكٍ رض قَالَ: فُرِضَتْ عَلَى النَّبِيّ ص الصَّلَوَاتُ لَيْلَةَ اُسْرِيَ بِهِ خَمْسِيْنَ، ثُمَّنُقِصَتْ حَتَّى جُعِلَتْ خَمْسًا. ثُمَّ نُوْدِيَ: يَا مُحَمَّدُ اِنَّهُ لاَ يُبَدَّلُ اْلقَوْلُ لَدَيَّ وَ اِنَّ لَكَ بِهذِهِ
اْلخَمْسِ خَمْسِيْنَ. احمد و النسائى و الترمذى و صححه، فى نيل الاوطار 1: 334
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Diwajibkan shalat itu pada Nabi SAW
pada malam Isra’, lima puluh kali. Kemudian dikurangi sehingga menjadi
lima kali, kemudian Nabi dipanggil, “Ya Muhammad, sesungguhnya tidak
diganti (diubah) ketetapan itu di sisi-Ku. Dan sesungguhnya lima kali
itu sama dengan lima puluh kali”. [HR. Ahmad, Nasai dan Tirmidzi. Dan
Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 334]

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya)
adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. )

Dalam dua kitab shohih, berbagai kitab sunan dan musnad, dari Abdullah
bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma. Beliau berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ
الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat,
(4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan
Ramadhan.” (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)

Nabi Bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا فَقَالَ: مَنْحَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَ بُرْهَانًا وَ نَجَاةً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. وَ مَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا
لَمْ تَكُنْ لَهُ نُوْرًا وَ لاَ بُرْهَانًا وَ لاَ نَجَاةً. وَ كَانَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَ فِرْعَوْنَ
وَ هَامَانَ وَ اُبَيّ بْنِ خَلَفٍ. احمد، فى نيل الاوطار 1: 343

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, dari Nabi SAW bahwa beliau pada
suatu hari menerangkan tentang shalat, lalu beliau bersabda,
“Barangsiapa memeliharanya, maka shalat itu baginya sebagai cahaya,
bukti dan penyelamat pada hari qiyamat. Dan barangsiapa tidak
memeliharanya, maka shalat itu baginya tidak merupakan cahaya, tidak
sebagai bukti, dan tidak (pula) sebagai penyelamat. Dan adalah dia pada
hari qiyamat bersama-sama Qarun, Fir’aun, Haaman, dan Ubay bin Khalaf”.
[HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

Dalam Shohih Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ

“Suatu saat akan datang para pemimpin. Mereka melakukan amalan ma’ruf
(kebajikan) dan kemungkaran (kejelekan). Barangsiapa mengetahui bahwa
itu adalah kemungkaran maka dia telah bebas. Barangsiapa mengingkarinya
maka dia selamat. Sedangkan (dosa dan hukuman adalah) bagi siapa yang
ridho dan mengikutinya.” Kemudian para shahabat berkata, “Apakah kami
boleh memerangi mereka.” Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لاَ مَا صَلَّوْا

“Jangan selama mereka mengerjakan shalat.” (HR. Muslim no. 4906. Lihat
penjelasan hadits ini di Ad Dibaj ‘ala Muslim, 4462 dan Syarha An
Nawawi ‘ala Muslim, 6327)

Rasul SAW bersabda dalam hadistnya,

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ قَالَ: بَعَثَ عَلِيٌّ وَ هُوَ بِاْليَمَنِ اِلَى النَّبِيّ ص بِذُهَيْبَةٍ فَقَسَّمَهَابَيْنَ اَرْبَعَةٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِتَّقِ اللهَ. فَقَالَ: وَيْلَكَ اَوَلَسْتُ اَحَقَّ اَهْلِ
اْلاَرْضِ اَنْ يَتَّقِيَ اللهَ! ثُمَّ وَلَّى الرَّجُلُ. فَقَالَ خَالِدُ بْنُ اْلوَلِيْدِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلاَ
اَضْرِبُ عُنُقَهُ؟ فَقَالَ: لاَ، لَعَلَّهُ اَنْ يَكُوْنَ يُصَلّى. فَقَالَ خَالِدٌ: وَ كَمْ مِنْ مُصَلّ يَقُوْلُ
بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِى قَلْبِهِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنّى لَمْ اُوْمَرْ اَنْ اُنَقّبَ عَنْ قُلُوْبِ
النَّاسِ وَ لاَ اَشُقَّ بُطُوْنَهُمْ. مختصر من حديث احمد و البخارى و مسلم، فى نيل
الاوطار 1: 338
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Ali yang waktu itu berada di
Yaman, pernah mengirim sekeping emas pada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW
membagikannya kepada empat orang. Kemudian ada seorang laki-laki
berkata, “Ya Rasulullah, takutlah kepada Allah (karena menganggap Nabi
SAW tidak adil dalam pembagian itu). Lalu Nabi SAW menjawab, “Celaka
kamu, bukankah aku orang yang paling baik diantara penduduk bumi ini
yang bertaqwa kepada Allah ?”. Kemudian laki-laki itu berpaling. Lalu
Khalid bin Walid bertanya, “Ya Rasulullah, bolehkah aku penggal lehernya
?”. Nabi SAW menjawab, “Jangan, barangkali dia melakukan shalat”. Khalid
berkata, “Berapa banyak orang yang shalat yang hanya menyatakan dengan
lisannya saja, tetapi tidak demikian di dalam hatinya”. Lalu Rasulullah
SAW menjawab, “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk menyelidiki
hati-hati manusia, dan tidak pula untuk membelah perut-perut mereka”.
[Diringkas dari suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan
Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 338]

Hadist Tentang Sholat Lainnya :

“Shalat adalah sebaik-baik amalan yang ditetapkan Allah untuk hamba-Nya.”

Abdullah ibnu Mas'ud Ra berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, "Ya
Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdol?" Beliau menjawab,
"Shalat tepat pada waktunya." Aku bertanya lagi, "Lalu apa lagi?" Beliau
menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi,
"Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Berjihad di jalan
Allah." (HR. Bukhari)

“Dari Abu Dzar r.a., bahwasanya Rasulullah saw. keluar dari rumahnya
ketika musim dingin, waktu itu daun-daun berguguran. Rasulullah saw.
mengambil ranting dari sebatang pohon, sehingga daun-daun di ranting
itupun banyak berguguran. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, Wahai Abu
Dzar!’ Saya menyahut, ‘Labbaik, ya Rasulullah.’ Lalu beliau bersabda,
‘Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan
ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya
daun-daun ini daripohonnya.” (Hr. Ahmad -At Targhib)

Shalat dua rakaat (yakni shalat sunnah fajar) lebih baik dari dunia dan
segala isinya. (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw.
ber-sabda, ‘Bagaimana pendapat kalian, jika di depan rumah salah seorang
dari kalian terdapat sebuah sungai yang mengalir dan dia mandi di
dalam¬nya lima kali sehari, apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?’
Mereka menjawab, ‘Tidak akan tersisa kotoran di tubuhnya sedikitpun.’
Rasulullah saw. bersabda, ‘Begitulah perumpamaan shalat lima waktu,
dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosa.” (Hr. Bukhari, Muslim,
Tirmidzi dan Nasai)

Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia kafir
terang-terangan. (HR. Ahmad)

Dari Hudzaifah r.a. dia berkata, “Apabila Rasulullah saw. mengalami
kesulitan, maka beliau segera melaksakan shalat.” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud)

Shalat pada awal waktu adalah keridhoan Allah dan shalat pada akhir
waktu adalah pengampunan Allah. (HR. Tirmidzi)

“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat’dan sesungguhnya hal
yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”

Barangsiapa lupa shalat atau ketiduran maka tebusannya ialah
melakukannya pada saat dia ingat. (HR. Ahmad)

“Dart Abu Hurairah r.a., “Dua orang dari kabilah Baliy satu kaum dari
kabilah keturunan Qudaah telah memeluk Islam. Maka salah seorang darinya
telah mati syahid, dan seorang lagi hidup selama satu tahun. Thalhah bin
Ubaidillah r.a. berkata, “Saya melihat di dalam mimpi, bahwa orang yang
meninggal setahun kemudian itu dimasukkan ke dalam surga lebih dahulu
daripada si syahid. Saya merasa heran atas peristiwa itu. Maka pada pagi
harinya saya menceritakannya kepada Nabi saw., atau hal itu diceritakan
oleh orang lain (yang mendengarnya dari saya) kepada RasuluUah saw..
Beliau saw. bersabda, ‘Bukankah dia telah berpuasa sebulan penuh pada
bulan Ramadhan setelah kematian temannya, dan mengerjakan shalat
sebanyak 6.000 rakaat, dan beberapa rakaat lagi dalam shalatnya selama
satu tahun?’” (Hr. Ahmad)

Nabi Saw ditanya tentang shalat, "Bagaimana shalat yang paling afdol?"
Beliau menjawab, "Berdiri yang lama." (HR. Muslim)

“Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau
bersabda, “Setiap tiba waktu shalat, seorang malaikat diutus untuk
menyeru, ‘Wahai anak Adam, bangun dan padamkanlah apt yang sedang kalian
nyalakan untuk membakar dirt kalian.’ Maka orang-orangpun berdiri, lalu
bersuci dan melaksanakan shalat Zhuhur, sehingga dosa-dosa antara Shubuh
hingga Zhuhur diampuni. Apabila datang waktu Ashar, seperti itu juga,
waktu Maghrib seperti itujuga, waktu Isya seperti itujuga, setelah itu
mereka tidur. Maka ada yang bermalam dengan kebaikan dan ada juga yang
bermalam dengan keburukan. (Hr. Thabrani)

Maukah aku beritahu apa yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat
derajat?" Para sahabat menjawab: "Baik ya Rasulullah." Beliau berkata,
"Berwudhu dengan baik, menghilangkan kotoran-kotoran, banyak langkah
diayunkan menuju mesjid, dan menunggu shalat (Isya) sesudah shalat
(Maghrib). Itulah kewaspadaan (kesiagaan)." (HR. Muslim)

Dari Abu Qatadah bin Rib’i r.a., Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah
Swt. berfirman, “Sesungguhya Aku telah mewajibkan shalat lima waktu
kepada umatmu. Dan Aku telah berjanji pada diri-Ku, bahwa barangsiapa
yang menjaga shalat pada waktunya, niscaya akan Aku masukkan ke dalam
surga dengan jaminan-Ku. Dan barangsiapa yang tidak menjaga shalatnya,
maka Aku tidak memberi jaminan baginya.” (Hr. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Paling dekat seorang hamba kepada Robbnya ialah ketika ia bersujud maka
perbanyaklah do'a (saat bersujud) (HR. Muslim)

Dari Ibnu Salman r.a. berkata, “Seorang lelaki dart kalangan sahabat
berkata kepada Rasulullah saw, ‘Ketika kami menaklukkan kota Khaibar
dalam suatu peperangan, orang-orang mulai mengeluarkan harta rampasan
perang yang terdiri dari berbagai macam barang dan tawanan. Maka
orang-orang pun mulai berjual beli dengan harta rampasan perangnya.
Tiba-tiba datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw. dan berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhya pada hari ini saya telah memperoleh
keuntungan besar dan tidak ada seorang pun dari penduduk lembah ini yang
dapat menyamai keuntungan saya.” Dengan terheran-heran Rasulullah saw.
bertanya, “Berapa keuntungan yang engkau dapatkan?” Dia menja-wab, “Saya
terus menerus berjual beli sehingga mendapatkan keuntungan 300Uqiyah.”
Rasulullah saw. bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu sebaik-baik
orang yang mendapat keuntungan?” Dia bertanya, “Apakah itu, ya
Rasulullah?” Beliau saw. menjawab, “Dua rakaat shalat sunnat setelah
shalat fardhu.” (Hr. Abu Dawud)

Paling afdol (utama) shalat seorang (adalah) di rumahnya kecuali
(shalat) yang fardhu (lima waktu). (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbanyaklah sujud kepada Allah, sesungguhnya bila sujud sekali Allah
akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu. (HR. Muslim)

Sebenarnya masih banyak sekali dalil dalil baik ayat Al-Qur'an maupun
hadits Nabi mengenai kewajiban mendirikan sholat, namun sedikit
kumpulan hadist tentang sholat diatas sudah mampu memotivasi kita umat
islam akan wajib dan pentingnya mengerjakan shalat. wallahu a'lam.

SEMOGA BERMANFAAT.......

Like dan bagikan klik➡www.facebook.com

No comments:

Post a Comment

storyess.blogspot.com

Janganlah Sombong

STORYESS Azab Bagi Orang Yang Sombong Janganlah sombong Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 3226

Storyess.blogspot.com